1 Kenangan.

Ketika niat sudah tertabung, hingga celengan ayam tidak bisa diisi lagi,

Notif HP muncul, ternyata dari kawan kelana,

Apa ???

Ragaku lunglai, saat tiga dataran tinggi yang disampaikannya.

Apa aku bisa ?
Apa aku sanggup ?
Apa perokok sepertiku bisa ?

Seketika memori ngebolang menyeruak kembali didalam harddisk internal otakku.

Kukuatkan tekad!.

.

.

.

Dirikupun izin dengan orang tua,

Napak tilas dimulai…

Dari waktu yang ditentukan akupun terlambat karena ada beberapa hal yang harus diikhlaskan, kawanku menjadi menunggu, seperti menunggu suara rasa dari si pujangga.

Tiga dataran tinggipun terjejaki,

Tadi rebahan yang nikmat didataran tinggi,

Dikarenakan, sambil mengingat rasa sampai ketiduran,

Hingga lupa bahwa centang abu tak kunjung membiru.

Selesai.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Netizen Maha Benar : Kok pendek amat ???.

Terserah gue lah, kok situ protes! jawabku dengan lantang.

Mengapa cerita ini begitu singkat ?

Mungkin yang dipikir netizen “ah, penulisnya kekurangan bahas nulis… ” seperti kaum atas yang selalu kekurangan materi, pada kenyataannya bahwa digarasinya terlalu banyak uang yang terdiam tetapi tidak jelas bergerak atau tidak, apa itu harus dibanggakan ?.

Diriku hanya ingin menyimpannya bukan untuk dibagi ditempat seperti ini, tetapi aku ingin membaginya dengan ikut berjalan berdampingan bersamaku atau buatlah perjalananmu sendiri, jika kehendak tuhan kita bertemu, kita bisa berkelana cerita dari dirimu maupun diriku,

Seru tidak ya ? Itu sudah termasuk.

Letih ? Kuatkan fisikmu wahai insan.

Dingin ? Patuhilah safety first.

Lama sampai puncak ? Sukses perlu waktu!.

Eits, jangan lupa H2O bawa lebih.

Pada akhirnya perjalanan kembali pada tempat peristirahatan yaitu rumah.

Seperti insan yang mencari hati untuk berpulang tetapi sering kali singgah di rest area karena melihat ada yang baru disana, nyatanya yang dicari rumah, sehingga menyebabkan goresan baru.

-Bintang Jatuh