Sajak sendu terdengar merdu,
Berakhir haru disetiap matamu,
Diriku hanya menatapmu dari jauh, tanpa membantu.
Nafasku sesak menatapmu seperti itu,
Ingin kedekap dirimu, “tenang masih ada aku” ucapku sambil mengusap mahkotamu,
Takdisangka sedihmu cepat berlalu, layaknya komedian walau mendapat kabar pilu, tetap melaksanakan pekerjaannya yaitu, menghibur insan yang sedang carut marut rasa.
.
.
.
Nafasku menderu,
Melihat senyummu,
Sesaat aku bisa merasakan indahnya dunia lewat senyummu.
Ah, gombal…
Bukan, aku hanya merefleksikan dunia lewat dirimu.
Apakah harus seperti itu ?
Yah, lebih baik seperti itu…
Karena setiap insan mempunyai caranya masing-masing untuk menikmati waktu expired hidup.
Dan diriku tidak bisa membantah maupun melarang dirimu akan bertempat dimana, itu pilihan.
Sekarang hanya ada memilih atau dipilih…
Aku tidak memilih keduanya, karena aku mengikuti kata-kata seorang pemuda yang terkenal pada masanya, aku memilih menjadi insan yang bebas.
Ahhh, sudahlah!. Bosan aku mendengar cerita romansa seperti ini, padahal diriku hanya berkhayal saja dengan satu kata itu yaitu, Cinta.
Abaikan!.
Diriku hanya penikmat rasa….
-Bintang Jatuh