Rumpang.

Kok bisa ya, memberi agar diakui ? Seperti insan yang akan MENJABAT!

Kok bisa ya, saat punya banyak ANGKA di kertas baru diakui ?

Kok bisa ya, saat nilai ujian hampir mencapai angka sempurna atau sempurna di semua mata pelajaran baru DIANGGAP pintar ?

Kok bisa ya, dalangnya bakar hutan tidak di penjara ? Sedangkan maling kayu (disebutnya) DI BUI (hanya dua batang kecil itu pun akan dipakai kayu bakar) ?

Kok bisa ya, ada yang buat UU baru yang mengatur tentang insan ? Sehingga MENGALIHKAN tentang kebakaran hutan?

Kok bisa ya, ada yang mengatur cita-cita anaknya ? Sedangkan anak tersebut tidak bisa MENYUARAKAN haknya ?

Kok bisa ya, saat mencari ilmu perlu tanda tangan HARUS bayar ?

Kok bisa ya, ada kepala di kepalai oleh kepala LAGI ?

Kok bisa ya, bayar air ke sana ? Sedangkan yang memberikan air BUKAN disana tetapi alam

Kok bisa ya, MANUSIA mengkotak-kotakan kepercayaan ?

Kok bisa ya, netizen selalu BENAR ?

Kok bisa ya, insan yang dimatikan suaranya & RAGAnya karena dia benar?

Kok bisa ya, peluru disamakan dengan UANG ?

Kok bisa ya, berbeda SELALU dipermasalahkan?

Kok bisa ya, HUTAN diganti sawit ?

Kok bisa ya, hutan di PAGAR ?

Kok bisa ya, 420 ilegal ?

Kok bisa ya, perokok selalu dihujat oleh netizen bahwa dia tidak baik ? Padahal secara tidak langsung perokok salah satu volunteer kehidupan di NUSANTARA.

-Bintang Jatuh

1 Kenangan.

Ketika niat sudah tertabung, hingga celengan ayam tidak bisa diisi lagi,

Notif HP muncul, ternyata dari kawan kelana,

Apa ???

Ragaku lunglai, saat tiga dataran tinggi yang disampaikannya.

Apa aku bisa ?
Apa aku sanggup ?
Apa perokok sepertiku bisa ?

Seketika memori ngebolang menyeruak kembali didalam harddisk internal otakku.

Kukuatkan tekad!.

.

.

.

Dirikupun izin dengan orang tua,

Napak tilas dimulai…

Dari waktu yang ditentukan akupun terlambat karena ada beberapa hal yang harus diikhlaskan, kawanku menjadi menunggu, seperti menunggu suara rasa dari si pujangga.

Tiga dataran tinggipun terjejaki,

Tadi rebahan yang nikmat didataran tinggi,

Dikarenakan, sambil mengingat rasa sampai ketiduran,

Hingga lupa bahwa centang abu tak kunjung membiru.

Selesai.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Netizen Maha Benar : Kok pendek amat ???.

Terserah gue lah, kok situ protes! jawabku dengan lantang.

Mengapa cerita ini begitu singkat ?

Mungkin yang dipikir netizen “ah, penulisnya kekurangan bahas nulis… ” seperti kaum atas yang selalu kekurangan materi, pada kenyataannya bahwa digarasinya terlalu banyak uang yang terdiam tetapi tidak jelas bergerak atau tidak, apa itu harus dibanggakan ?.

Diriku hanya ingin menyimpannya bukan untuk dibagi ditempat seperti ini, tetapi aku ingin membaginya dengan ikut berjalan berdampingan bersamaku atau buatlah perjalananmu sendiri, jika kehendak tuhan kita bertemu, kita bisa berkelana cerita dari dirimu maupun diriku,

Seru tidak ya ? Itu sudah termasuk.

Letih ? Kuatkan fisikmu wahai insan.

Dingin ? Patuhilah safety first.

Lama sampai puncak ? Sukses perlu waktu!.

Eits, jangan lupa H2O bawa lebih.

Pada akhirnya perjalanan kembali pada tempat peristirahatan yaitu rumah.

Seperti insan yang mencari hati untuk berpulang tetapi sering kali singgah di rest area karena melihat ada yang baru disana, nyatanya yang dicari rumah, sehingga menyebabkan goresan baru.

-Bintang Jatuh

Karena, Gibah.

Luka yang menganga perlahan tertutup seiring berjalannya waktu.

Perlahan kaki ini kucoba untuk menikmati kasarnya, kerasnya, tajamnya, basahnya bumi ini, setelah sekian lama terhalangi kain-kain untuk proses pulih.

Rindu yang ditabung sejak luka diberikan, walaupun tidak mendapatkan bunga dalam bentuk persen tetapi dalam bentuk amat sangat merindu.

Akhirnya tabungan itu bisa dicairkan, dengan cara bertemu, bukan menatap layar HP sambil melihat fotomu.

Napak tilas dimulai kembali, tanggal dan waktu persetujuan sudah dikumandangkan.

Walau tanggal persetujuan dan waktu telah dikumandangkan, tetap saja harus menunggu kembali karena, ada beberapa hal yang harus diikhlaskan.

Bosan menunggu ? iya!,

Kesal ? mau bagaimana lagi,

Marah ? Kesiapa ?,

Setelah menunggu, akhirnya perjalanan dimulai, bertemu orang gila lagi. Mungkin saat di dataran tinggi hanya kita (bisa dibilang seperti itu) yang bising, berbeda dengan yang lainnya tenang seperti lagunya band indie yang lagi ngetrend saat ini, jika diibaratkan seperti sang surya yang tenggelam diam-diam tanpa peduli bahwa aku masih menyukainya walau, tidak pernah kuucapkan kepadanya.

Percakapan aneh terlontar, gelak tawa mengisi, rasis bukan menjadi masalah melainkan menjadi candaan, logistik yang dimiliki sebelumnya seadanya, menjadi sebanyak-banyaknya, hingga lupa bahwa sang surya sudah meraba lembut wajah manusia disekitarnya, terlihatlah wajah-wajah manusia yang diajak gibah.

Wah, ternyata kao memang gelap,
Wah, ternyata kao mirip sama dia,
Wah, ternyata kao memang besar,…

Masih banyak kata wah yang lainnya, jika diceritakan seperti janji-janji saat pemilihan pejabat yang mencari kekuasaan baik.

Banyak, tetapi masuk kanan keluar kiri.

Hanya gibah yang sesederhana itu, menyebabkan pertemanan hingga kini menjadi erat,

Semudah itu mendapatkan kawan?

Bukan!, menurutku bukan gibahnya tetapi bagaimana kita mau menambah daftar kawan di buku kehidupan.

Wush,… sudah habis beberapa batang penyakit ini, hinggga tiba di perhentian terakhir yaitu rumah.

Apakah sampai sini saja gibahnya? sepertinya tidak, hanya saja gibah itu berakhir pada hari itu saja, tetapi pertemanan tetap terjalin.

Napak tilas lagi ? tanya seorang teman,

Tidak perlu ditanya, schedulenya sudah ada! sahutku santai,

-Bintang Jatuh

Karib.

Samudera awan membentang luas,

Laksana jubah menyelimuti punggung kesatria.

Menyisakan langit bertelanjang badan,

Awam sibuk berkutat dengan eksistensi,

Kesatria sibuk berceloteh, tertawa, dan bercanda.

Disela-sela itu sambil mengingat dia pernah mengalaminya,

Tetapi tidak se(me)rusak seperti sekarang.

Ditemani dengan ramuan penambah rasa,

Tak pelak dipadu dengan penyakit yang ada disatu batang,

Nikmat, seperti berada di langit ke-7.

Semilir angin yang membelai pipi dengan mesra,

Penglihatan menutup secara perlahan,

Kesatriapun serasa dapat melihat cakrawala setelah langit biru disana,

Indah tetapi tidak bisa dibawa sebagai cindera mata.

Kesatria tidak mencari kenikmatan itu,

Melainkan membuat suasananya sendiri,

Jadilah kesatria,

Jika tidak, jadilah kawan kesatria tersebut.

-Bintang Jatuh

Asusila.

Sepertinya disaat seperti ini dirimu selalu hadir…

Disaat aku lelah…

Disaat aku sudah tidak ada harapan akan hidup…

Disaat menunggu suatu hal yang pasti, tetapi pasti untuknya…

Disaat aku lelah akan perasaan bimbang ini…

Disaat aku terpuruk, dan ingin menyudahi ini semua…

Disaat aku melihat yang lain tetapi dirimu tetap tidak bisa tergantikan di hati…

Disaat aku sudah muak dengan waktu ini…

Disaat aku bersabar tetapi aku selalu tergoda olehmu…

Disaat dirimu dilucuti aku pun semakin tegang…

Disaat tubuhmu yang aduhai itu dipamerkan, aku sungguh melihatmu tanpa berkedip…

Disaat air membasahi punggung dan area dadamu, aku hanya menelan lugah, sungguh nikmatnya kamu bila dijamah…

Kukuatkan tekad untuk tidak memikirkanmu karena saat ini aku masih punya hati…

Mengapa aku tak bisa melepaskan pandangan ini ke dirimu…

Ahhh…. Sudahlah aku akhiri saja penderitaan ini…

Aku memang laki-laki yang brengsek, setidaknya aku bisa menjamahmu dan mencicipimu…

Kuraba dadamu…

Merambat ke leher…

Ke kepala…

Sebelum itu, aku berfikir lagi, apakah aku laki-laki sejati ?

Yang memakaimu disaat aku membutuhkanmu!,

Yang sudah hilang manisnya lalu kubuang,

Dan tidak menganggapmu lagi…

Pantaskah aku menemukan yang lainnya atau pun ditemukan ?…

Pantaskah ???…

Ahhh, aku muak…

.

.

.

Kutuangkan dirimu (Sirup Hijau) kedalam gelas dan kucampur dengan air secara perlahan memakai jurus diam-diam tapi mau, lalu kuminum, karena masih jam 12 siang (Puasa), jangan sampai ada yang memergokiku…

Walaupun begitu, aku yang merasakanmu disaat waktu yang sempit ini, tidak ada selain aku…

Lega rasanya…

Sirup Hijau kau membuatku rusakkk!.

-Bintang Jatuh

Menguning…

Mengapa selalu ada kata itu yang selalu menemani di perjalananku.

Apakah aku yang salah mencerna kata itu ?, sehingga membuatku bimbang dalam perjalanan.

Tapi ku kuatkan tekad, agar tidak merusak perjalanan.

Kulangkahkan kaki ini kemana-pun ku mau agar lupa dengan kata itu.

Mencoba melupakan ternyata tidak bisa…, kuputuskan untuk mencari cara agar berdamai dengan kata itu.

Kumulailah perjalanan dadakan, untuk berdamai dengan kata itu dengan segala hal dadakan lainnya.

Dalam perjalanan dadakan, kata itu muncul lagi dikepalaku, sehingga membuatku berhenti sejenak.

Kuputar lagu yang berada di HP ku diposisi favorit, untuk menenangkan pikiran.

Beberapa lagu terputar, pikiranku tidak kacau lagi, dan beruntungnya staminaku kembali lagi, karena lagu – lagu yang baru saja kudengar, kulanjutkan lagi perjalanan dengan langkah kecil.

Saking asiknya melangkah, ternyata aku sudah sampai.

Yang kucari ternyata masih belum menampakkan diri, tapi sudah membuat tanda dengan warna sekitarnya menguning.

Beberapa menit kemudian kamu menampakkan diri secara malu – malu, rasanya seperti gerakan lambat, burung terbang sangat pelan, orang berbincang sangat lambat seperti terbata – bata, awan terkena hembusan angin-pun bergerak sangat lambat, waktu seketika bergerak secara perlahan, dan aku menikmatinya (sangat).

Kata itu muncul lagi di kepalaku, tapi menyejukkan hati dan tidak terasa berat.

Mengapa harus melihatmu dulu baru kata itu sejuk sekali dan tidak terasa berat ?

Jika Memang seperti itu bagaimana caranya jika aku tak sanggup melihatmu karena ada kendala di fisikku ?

Adakah cara lain untuk berdamai dengan kata itu ? atau adakah kata yang bisa mewakilimu untuk berdamai dengan kata itu ?

Jika tidak ada, bolehkah aku yang menamaimu ?

Jika IYA, kata itu yang kupakai untuk menamai mu…, Hanya 2 kata.

.

.

.

.

.

KAMU, rinduku!.

-Bintang Jatuh