Luka yang menganga perlahan tertutup seiring berjalannya waktu.
Perlahan kaki ini kucoba untuk menikmati kasarnya, kerasnya, tajamnya, basahnya bumi ini, setelah sekian lama terhalangi kain-kain untuk proses pulih.
Rindu yang ditabung sejak luka diberikan, walaupun tidak mendapatkan bunga dalam bentuk persen tetapi dalam bentuk amat sangat merindu.
Akhirnya tabungan itu bisa dicairkan, dengan cara bertemu, bukan menatap layar HP sambil melihat fotomu.
Napak tilas dimulai kembali, tanggal dan waktu persetujuan sudah dikumandangkan.
Walau tanggal persetujuan dan waktu telah dikumandangkan, tetap saja harus menunggu kembali karena, ada beberapa hal yang harus diikhlaskan.
Bosan menunggu ? iya!,
Kesal ? mau bagaimana lagi,
Marah ? Kesiapa ?,
Setelah menunggu, akhirnya perjalanan dimulai, bertemu orang gila lagi. Mungkin saat di dataran tinggi hanya kita (bisa dibilang seperti itu) yang bising, berbeda dengan yang lainnya tenang seperti lagunya band indie yang lagi ngetrend saat ini, jika diibaratkan seperti sang surya yang tenggelam diam-diam tanpa peduli bahwa aku masih menyukainya walau, tidak pernah kuucapkan kepadanya.
Percakapan aneh terlontar, gelak tawa mengisi, rasis bukan menjadi masalah melainkan menjadi candaan, logistik yang dimiliki sebelumnya seadanya, menjadi sebanyak-banyaknya, hingga lupa bahwa sang surya sudah meraba lembut wajah manusia disekitarnya, terlihatlah wajah-wajah manusia yang diajak gibah.
Wah, ternyata kao memang gelap,
Wah, ternyata kao mirip sama dia,
Wah, ternyata kao memang besar,…
Masih banyak kata wah yang lainnya, jika diceritakan seperti janji-janji saat pemilihan pejabat yang mencari kekuasaan baik.
Banyak, tetapi masuk kanan keluar kiri.
Hanya gibah yang sesederhana itu, menyebabkan pertemanan hingga kini menjadi erat,
Semudah itu mendapatkan kawan?
Bukan!, menurutku bukan gibahnya tetapi bagaimana kita mau menambah daftar kawan di buku kehidupan.
Wush,… sudah habis beberapa batang penyakit ini, hinggga tiba di perhentian terakhir yaitu rumah.
Apakah sampai sini saja gibahnya? sepertinya tidak, hanya saja gibah itu berakhir pada hari itu saja, tetapi pertemanan tetap terjalin.
Napak tilas lagi ? tanya seorang teman,
Tidak perlu ditanya, schedulenya sudah ada! sahutku santai,
-Bintang Jatuh