Mengapa selalu ada kata itu yang selalu menemani di perjalananku.
Apakah aku yang salah mencerna kata itu ?, sehingga membuatku bimbang dalam perjalanan.
Tapi ku kuatkan tekad, agar tidak merusak perjalanan.
Kulangkahkan kaki ini kemana-pun ku mau agar lupa dengan kata itu.
Mencoba melupakan ternyata tidak bisa…, kuputuskan untuk mencari cara agar berdamai dengan kata itu.
Kumulailah perjalanan dadakan, untuk berdamai dengan kata itu dengan segala hal dadakan lainnya.
Dalam perjalanan dadakan, kata itu muncul lagi dikepalaku, sehingga membuatku berhenti sejenak.
Kuputar lagu yang berada di HP ku diposisi favorit, untuk menenangkan pikiran.
Beberapa lagu terputar, pikiranku tidak kacau lagi, dan beruntungnya staminaku kembali lagi, karena lagu – lagu yang baru saja kudengar, kulanjutkan lagi perjalanan dengan langkah kecil.
Saking asiknya melangkah, ternyata aku sudah sampai.
Yang kucari ternyata masih belum menampakkan diri, tapi sudah membuat tanda dengan warna sekitarnya menguning.
Beberapa menit kemudian kamu menampakkan diri secara malu – malu, rasanya seperti gerakan lambat, burung terbang sangat pelan, orang berbincang sangat lambat seperti terbata – bata, awan terkena hembusan angin-pun bergerak sangat lambat, waktu seketika bergerak secara perlahan, dan aku menikmatinya (sangat).
Kata itu muncul lagi di kepalaku, tapi menyejukkan hati dan tidak terasa berat.
Mengapa harus melihatmu dulu baru kata itu sejuk sekali dan tidak terasa berat ?
Jika Memang seperti itu bagaimana caranya jika aku tak sanggup melihatmu karena ada kendala di fisikku ?
Adakah cara lain untuk berdamai dengan kata itu ? atau adakah kata yang bisa mewakilimu untuk berdamai dengan kata itu ?
Jika tidak ada, bolehkah aku yang menamaimu ?
Jika IYA, kata itu yang kupakai untuk menamai mu…, Hanya 2 kata.
.
.
.
.
.
KAMU, rinduku!.
-Bintang Jatuh